Cek apakah sebuah teks ditulis AI sebelum Anda mengumpulkan atau menerbitkannya. TextSight tidak berhenti di satu angka: alat ini menunjukkan kalimat mana yang terbaca seperti AI dan kenapa. Gratis untuk dicoba, tanpa kartu kredit. 3 pemindaian per hari · hasil pertama sekitar enam detik.
Tempel teks Anda atau muat contoh untuk memperkirakan kemungkinan teks itu ditulis AI.
Bukan pencocokan sumber. Yang dibaca adalah pola penulisan.
Cek plagiarisme bekerja dengan cara membandingkan naskah Anda dengan basis data dokumen lain lalu melaporkan kecocokan. Detektor AI tidak punya sumber untuk dibandingkan, karena teks yang dihasilkan model bahasa memang tidak menyalin dari mana pun. Yang dibacanya adalah bentuk tulisan itu sendiri.
Model bahasa memilih kata berikutnya berdasarkan kata yang paling mungkin muncul. Efeknya, keluaran mereka cenderung lebih rata daripada tulisan manusia: panjang kalimat lebih seragam, pilihan kata lebih aman, transisi antarparagraf lebih tertib, dan lebih sedikit belokan yang tidak terduga. Detektor AI mengukur keteraturan itu. Nilai yang keluar bukan pernyataan "ini ditulis mesin", melainkan "tulisan ini seteratur keluaran mesin".
Perbedaannya penting, dan di situlah sebagian besar kesalahpahaman lahir. Tulisan manusia yang sangat rapi, sudah diedit berkali-kali, atau ditulis mengikuti templat baku juga akan terbaca teratur. Abstrak jurnal, laporan laboratorium, dan bagian metodologi adalah contoh klasik: formatnya memang menuntut keseragaman, jadi wajar kalau skornya tinggi meski ditulis sepenuhnya oleh manusia.
Karena itu TextSight tidak berhenti pada satu persentase. Setiap kalimat dinilai terpisah dan diberi sorotan sendiri, sehingga Anda bisa melihat apakah skor tinggi itu berasal dari seluruh naskah atau hanya dari tiga kalimat pembuka yang kebetulan berbunyi formal. Satu angka tanpa konteks tidak memberi tahu Anda apa pun yang bisa ditindaklanjuti.
Ini masalah yang paling sering dialami penulis Indonesia, dan penyebabnya bukan kecurangan.
Sebagian besar orang yang membuka halaman ini bukan sedang mencari cara memeriksa teks berbahasa Indonesia. Mereka menulis dalam bahasa Inggris, untuk skripsi berbahasa Inggris, artikel jurnal terindeks, esai beasiswa, atau tugas mata kuliah internasional, lalu naskah mereka ditandai sebagai AI padahal mereka menulisnya sendiri.
Ada penjelasan yang terukur untuk itu. Penelitian Stanford tahun 2023 oleh Liang dan rekan menguji tujuh detektor AI terhadap esai yang ditulis penulis bahasa Inggris non-natif, dan menemukan tingkat positif palsu 61,3 persen, sementara tulisan penulis natif nyaris tidak pernah salah ditandai. Salah satu detektor dalam pengujian itu menandai 97,8 persen esai non-natif sebagai buatan mesin.
Penyebabnya justru hal-hal yang selama ini diajarkan sebagai tulisan yang baik dalam bahasa kedua. Anda memilih kosakata yang Anda yakini benar, bukan kata paling langka. Anda memakai struktur kalimat yang sudah Anda kuasai. Anda menjaga kalimat tetap jelas dan panjangnya mirip satu sama lain. Semua itu menurunkan variasi, dan variasi rendah persis yang dihitung detektor sebagai jejak mesin. Dengan kata lain, detektor menghukum kehati-hatian.
Konsekuensinya nyata bagi mahasiswa dan dosen di Indonesia, yang sering diwajibkan menerbitkan dalam bahasa Inggris untuk jurnal terindeks Scopus atau untuk memenuhi syarat SINTA. Naskah yang ditulis sendiri selama berbulan-bulan bisa kembali dengan indikator AI tinggi, dan beban pembuktian jatuh ke penulis.
Kami menyebut ini apa adanya karena itu memengaruhi cara Anda seharusnya membaca skor kami juga. Skor tinggi pada tulisan bahasa Inggris Anda bukan bukti bahwa Anda memakai AI. Kalau Anda memang menulisnya sendiri, hal paling berguna yang bisa Anda lakukan adalah menyiapkan bukti proses: riwayat versi dokumen, catatan, draf awal, dan sumber yang Anda baca. Itu jauh lebih meyakinkan di hadapan dosen pembimbing daripada skor detektor mana pun, termasuk skor kami.
Tiga lapis pembacaan, lalu satu skor keaslian.
Tingkat kalimat. Setiap kalimat dinilai sendiri, lalu diberi warna menurut probabilitas AI-nya. Inilah lapisan yang paling berguna secara praktis, karena menunjukkan apakah masalahnya menyebar merata atau terkumpul di satu bagian, misalnya paragraf pembuka yang Anda tulis paling akhir saat sudah lelah.
Tingkat dokumen. Keseluruhan naskah dinilai sebagai satu kesatuan, karena sebagian sinyal hanya muncul pada skala panjang: irama paragraf, pengulangan struktur argumen, dan seberapa seragam panjang kalimat dari awal sampai akhir.
Profil teks. Sebelum penilaian, teks diperiksa untuk menentukan bahasanya. Kalau bahasanya di luar bahasa Inggris, hasil Anda akan disertai peringatan di atas skor, bukan disembunyikan. Kami lebih memilih memberi tahu Anda bahwa angkanya kurang bisa dipegang daripada menampilkan angka yang terlihat pasti padahal tidak.
Hasil akhirnya adalah satu skor keaslian ditambah bukti per kalimat yang mendasarinya. Pemindaian pertama biasanya selesai sekitar enam detik. Kalau Anda menjalankan teks yang sama dua kali, hasil kedua datang hampir seketika karena jawabannya disimpan sementara.
Detektor membaca pola, bukan tanda air, jadi tidak terikat pada satu vendor.
Karena yang dinilai adalah bentuk tulisan dan bukan sidik jari tersembunyi, detektor tidak perlu tahu model mana yang membuat teks tersebut. Keluaran ChatGPT, Gemini, Claude, DeepSeek, Copilot, dan Llama sama-sama memperlihatkan keteraturan yang dicari detektor, walaupun kadarnya berbeda-beda antar model dan antar versi.
Dua hal yang jujur perlu Anda ketahui. Pertama, teks AI yang sudah diedit ulang oleh manusia semakin sulit ditandai, dan memang seharusnya begitu, karena pada titik tertentu tulisan itu memang sudah jadi tulisan manusia. Kedua, model baru terus bermunculan, sehingga detektor mana pun adalah sasaran yang bergerak. Siapa pun yang mengiklankan akurasi seratus persen sedang menjual sesuatu yang tidak bisa mereka buktikan.
Tiga hal berbeda yang sering dianggap sama.
Cek plagiarisme mencari kecocokan teks Anda dengan sumber yang sudah ada. Kalau Anda menyalin satu paragraf dari artikel orang lain, di sinilah ketahuan. Naskah yang ditulis AI sepenuhnya justru sering lolos, karena kalimatnya baru dan tidak menyalin siapa pun.
Detektor AI mengabaikan sumber sepenuhnya dan hanya membaca pola penulisan. Naskah yang Anda tulis sendiri tapi berisi kutipan tanpa sitasi akan lolos di sini, padahal itu masalah serius. Dua alat ini menjawab pertanyaan yang berbeda, dan tidak saling menggantikan.
Turnitin menyediakan keduanya di satu laporan, dan itulah yang dipakai banyak kampus di Indonesia. Perlu dicatat, Turnitin sendiri mencantumkan peringatan pada indikator AI mereka bahwa angka tersebut bukan vonis dan perlu ditinjau manusia. Kalau lembaga yang membuat alatnya saja berhati-hati, wajar kalau Anda juga.
TextSight berguna sebagai pemeriksaan mandiri sebelum naskah masuk ke sistem kampus, bukan sebagai pengganti sistem kampus. Tujuannya sederhana: jangan sampai Anda terkejut oleh laporan yang tidak Anda duga.
Yang berguna dilakukan, dan yang sebaiknya tidak.
Kumpulkan bukti proses, bukan bukti hasil. Riwayat versi di Google Docs atau Microsoft Word, draf awal, catatan tulisan tangan, daftar bacaan, dan pesan dengan dosen pembimbing jauh lebih kuat daripada skor detektor mana pun. Bukti proses menunjukkan naskah itu tumbuh; skor hanya menunjukkan bentuk akhirnya.
Minta kriterianya secara tertulis. Tanyakan detektor apa yang dipakai, berapa ambang batasnya, dan apakah ada tinjauan manusia. Pertanyaan ini wajar dan sering kali cukup untuk memindahkan percakapan dari tuduhan ke peninjauan.
Jangan menulis ulang naskah asli Anda supaya "lolos". Ini godaan yang paling umum dan paling merugikan. Menulis ulang karya jujur Anda hanya untuk mengelabui detektor akan merusak tulisan itu sendiri, dan kalau kemudian diperiksa, riwayat versinya justru terlihat lebih mencurigakan. Kalau Anda memang menulisnya sendiri, pertahankan naskahnya.
TextSight tidak menjual jalan pintas untuk menghindari deteksi, dan kami tidak menyebut alat mana pun "tidak terdeteksi". Yang kami sediakan adalah pemeriksaan awal supaya Anda tahu posisi naskah Anda sebelum orang lain yang menilainya.
Empat situasi yang paling sering kami lihat.
Mahasiswa sebelum mengumpulkan. Ini pemakaian paling umum. Anda menulis skripsi, tesis, atau tugas berbahasa Inggris, lalu ingin tahu posisi naskah Anda sebelum masuk sistem kampus. Yang dicari bukan izin untuk curang, melainkan kepastian bahwa tulisan jujur Anda tidak akan kembali dengan tuduhan. Kalau ada bagian yang berskor tinggi, sorotan per kalimat menunjukkan bagian mana, dan biasanya itu paragraf yang paling formal, bukan yang paling curang.
Dosen dan penulis jurnal. Kewajiban menerbitkan dalam bahasa Inggris di jurnal terindeks membuat banyak akademisi Indonesia menulis di luar bahasa pertamanya, persis populasi yang paling rentan positif palsu. Memeriksa naskah lebih dulu memberi waktu untuk menyiapkan bukti proses sebelum ada yang mempertanyakannya.
Penulis lepas dan agensi konten. Klien makin sering menjalankan pemeriksaan AI sendiri sebelum membayar. Memeriksa naskah sebelum dikirim menghindari perselisihan yang sulit dibuktikan setelah terjadi, terutama bila Anda bekerja dengan klien luar negeri.
Guru dan pengelola program. Sebagian pengguna kami berada di sisi sebaliknya: mereka menerima naskah dan harus memutuskan apa yang dilakukan dengan skor tinggi. Untuk mereka, bagian paling berguna bukan angkanya, melainkan bukti per kalimat, karena itulah yang bisa dibawa ke percakapan dengan mahasiswa tanpa berubah jadi tuduhan sepihak.
Di keempat situasi itu tujuannya sama: satu pemeriksaan awal supaya tidak ada yang terkejut, dan supaya penilaian dilakukan orang, bukan diserahkan bulat-bulat pada sebuah angka.
Halaman bahasa Inggris kami membahas beberapa hal ini lebih dalam: positif palsu pada detektor AI, cara membuktikan Anda tidak memakai AI, menyusun surat sanggahan, dan apa yang terjadi saat kampus menuduh. Untuk alat lainnya, lihat AI Detector dan AI Rewriter.
Gratis untuk dicoba, tanpa kartu kredit. Pindai gratis sekarang · hasil pertama sekitar enam detik.